Hari terkutuk itu adalah hari sabtu. Gue tampak lebih lusuh dari biasanya. Ini dikarenakan pelajaran yang membosankan. Pelajaran yang full teori. Membosankan -___-
Jam pulang sekolah pun berbunyi. Tanda untuk semua pelajar
di sini pulang sekolah. Tapi gue nggak, gue masih ada ekstrakurikuler yaitu
active English.
Setelah gue beres-beres gue langsung keluar kelas. Sebelum
menuju kelas x ips b, tempat dimana kelas active English berlangsung, gue
menuju owning dulu. Semacam aula terbuka gitu di sekolah gue.
Dan di sinilah
tragedi ini terjadi. Sesampainya di owning, gue tolah toleh seperti anak ayam
yang kehilangan induknya. Gue nyariin upil. Katanya dia nunggu gue di owning.
Yang dimaksud nyari upil disini bukan gue nyamperin orang-orang terus gue
masukin jari gue ke hidungnya buat ngorek-ngorek upilnya. Tapi upil di sini
adalah temen gue. Sebenarnya namanya arif. Gue juga bingung kenapa dia
dipanggil upil. Apa mungkin bodinya yang mirip upil atau mungkin malah tititnya
yang seperti upil. Gue nggak tahu. Kalau mau tanya ini nomer hapenya
085731400xxx. Tapi gue harap lo jangan hubungi dia atau lo bakal sial.
Oke lanjut ke cerita, gue nyari-nyari dia, tapi dia gak
terlihat juga. Gue malah melihat anak dari salah satu guru BK di sekolah gue.
Namanya Regan. Gue udah kenal sama tuh anak. Gue panggil dia. Regan . . Regan .
.Dia noleh melihat gue. Dia nyamperin gue. Tapi kali ini dia tidak seperti
biasanya. Dia nyamperin gue sambil mangap-mangap. Dan tahukah Anda? Dia
mengarahkan mulutnya tepat di depan titit gue. Seakan-akan dia mau memakan
titit gue. Dia juga manggil-manggil nama
gue. Yang sebenarnya nama gue Brori. kedengarannya malah jadi boli.
Dia mangap-mangap ke arah titit gue sambil ngomong boli. .
boli . . udah seperti lumba-lumba yang terkena penyakit TBC. Gue menghindar
sebisa mungkin. Gue melindungi titit gue dari serangannya.
Gue gak tahu kenapa dia begitu nafsunya dengan titit gue.
Ketika gue lari dia ngejar gue. Kita kejar-kejaran seperti di film india gitu.
Kita berdua di lihatin banyak orang. Yah miriplah sama pertunjukan sirkus. Gue
seperti pawang yang kewalahan menjinakkan anjing laut yang liar.
Setelah pertarungan yang cukup melelahkan itu, temen gue ada
yang datang buat nyelamatin gue. Dia menyingkirkan bocah gila itu dari gue.
Titit gue aman. Titit gue masih utuh. Alhamdulillah. Gue masih punya masa
depan.
Setelah kejadian itu gue gak pernah lagi ketemu sama dia
sampai saat ini. Dan gue berharap jangan sampai. Jangan sampai. Pokoknya jangan
sampai. Sekali lagi jangan sampai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar