Cerita tidak berperikeunyuan ini berawal
ketika gue, Brori si gila dari goa Akbar dan temen-temen basket gue
yang gak gue ketahui tingkat kewarasannya mengikuti turnamen Liga Songo di
Surabaya.Tepatnya hari minggu tanggal
21 april kemaren. Untuk berangkat
kesana kita menyewa travel. Kebetulan
milik temen kita sendiri. Jadi dikasih harga murah.
Hari yang ditunggu-tunggu pun
datang.Hari minggu. Hari
keberangkatan mobil travel yang mengangkut orang-orang pembawa bencana.Sebelum berangkat kita semua berkumpul di rumah Mahdi, temen basket gue. Pagi itu sebelum berangkat gue mengalami sebuah kesialan.
Jadi pagi itu gue bangun agak kesiangan.Saat gue melihat jam di hape gue ternyata udah jam setengah 7. Padahal rencananya kita berangkat jam 7. Dengan gugupnya seolah – olah gue TIMSAR yg ingin menyelamatkan
korban tenggelam gue mandi. Setelah
itu gue siap - siap. Saking
gugupnya sampai-sampai gue salah makai baju,
gue makai
dasternya
nenek gue. (hehe . . nggak
beneran kok)
Setelah ganti baju kesekian kalinya karena bingung, akhirnya
gue ngedapetin baju yang menurut gue
cocok. Hem kotak - kotak dengan bawahan jeans hitam.
Sebelum berangkat gue ngeliat hape
gue. Ada sms dari Upil. Dia ngajak untuk berangkat bareng alias dia nebeng.
Karena gue adalah teman yang baik, bersahaja, tidak suka mencontek dan rajin
menabung, gue bakal menjemputnya. Setelah siap gue segera menuju rumah Upil
(Arif). Gue menjemputnya dengan Byson (baca: motor) gue. Dengan body gue yang mirip tusuk gigi bekas ini gue mengendarai byson gue yang kegedean. Gak matching
bangetkan.
Saat di perjalanan menuju rumahnya Upil
rasanya itu seperti gue di interogasi seluruh anggota keluarga gara – gara
ketangkap basah gak bayar arisan. Menegangkan. Ini dikarenakan byson gue sangat
sulit dikendalikan, apalagi ketika dia melihat seorang ibu-ibu lagi menggendong
anaknya pakai baju merah. Sepertinya penyakit banteng gila udah merasuk di
byson gue. Dia ingin menyeruduk bayi tidak berdosa itu. Si ibu itu tau kalo byson
gue mau menyeruduk anaknya, dengan
cepat dia segera melepas baju
anaknya dan melemparkannya tepat di.... muka gue. Otomatis byson gue langsung
noleh kebelakang dengan tatapan garangnya. Sepertinya dia ingin nyeruduk gue.
Langsung gue bilang ke dia :
“Son, kalo lo berani nyeruduk gue,
gue pastikan lo mati jomblo”
Dia langsung jinak tanpa harus gue bius pakai obat penenang.
Akhirnya gue sampai di rumah Upil dengan selama sentosa setelah melewati perjalanan yang sedikit menguras
bensin itu. Sesampainya disana, gue mengikat Byson gue di pohon deket rumah Upil.Gue takut kalo dia kabur dan kawin lari
sama kambing tetangga. Pernah
sekali gue memergokinya waktu dia mau kabur sama kambing tetangga. Katanya sih,
hubungan mereka nggak direstui sama si pemilik kambing. Gue heran kenapa si kambing tetangga mau sama Byson
gue. Emang sih, tubuhnya kekar dia, beda sama gue yang lemah ini. Tapi kalau
dilihat dari segi ketampanan ya tampan gue.
Oke lanjut ke cerita. Gue langsung menuju ke pintu rumahnya Upil dan
memencet bel rumahnya yang bunyinya seperti ayam kejepit kulkas. Gue mainin
belnya sampai akhirnya Upil keluar dengan gaya pakaiannya yang menurutnya gaul tapi menurut gue seperti
om-om homo.
Gue : pil, lo tau gak, gaya
pakaian lo itu kayak om-om homo.
Waktu itu dia pake pakaian yang serba ketat.
Upil : ini trend 2013 bro. Semakin
ketat semakin keren.
Gue cuma ngangguk mengiyakan sambil ngeliatin bodinya yang
mirip marmut abis kelindes mobil.
Kita
langsung menuju ke rumahnya Mahdi. Tepatnya
di daerah Perbon.
Sampailah gue sama Upil di rumahnya Mahdi. Di sana
semuanya udah pada dateng.
Setibanya gue di rumah Mahdi, dia nyuruh gue
untuk markirin banteng gue (baca :
Byson) ke dalam rumahnya. Jalannya itu sempit, gelap, banyak kelelawar, udah seperti Goa Akbar. Mungkin rumahnya si Mahdi ini pernah dibuat syuting sinetron laga Indosiar. Dimana ada adegan orang lagi menunggangi naga terus
nabrak elang dan jatuh di jamban. Hahoahoa
Setelah
menunggu sampai bulu gagak berwarna-warni
(baca : gagak 4L4Y), akhirnya mobil travel pun datang. Kita semua
berbondong-bondong naik. Setelah semuanya naik tanpa ada yang tertinggal
kecuali kolor gue, mobil pun berangkat. Mulai meninggalkan rumah Mahdi. setelah mobil melaju
agak jauh. Di sinilah bencana maha dahsyat inbox masuk jurang kelelep
datang. Si Krida, temen gue yang juga ikut ke Surabaya tiba - tiba pusing, mual-mual,
perutnya sakit(mungkin kalo ini dia kebelet pup). Apa mungkin Krida hamil? Tapi, siapakah
yang menghamilinya? Apa mungkin si bola basket? (ala pembawa acara gosip).
LHOH KOK SI BOLA BASKET!! gue
berani menyimpulkan itu karena waktu itu posisi si Krida lagi memangku bola
basket.
Ternyata eh ternyata berjudi itu haram (lho.. kenapa gue malah nyanyi
lagunya Rhoma Irama). Ternyata Krida tidak hamil! Salah
perkiraan gue. Gue
memperkirakannya dengan rumus
Trigonometri. Kata Upil
si Krida ini pengen muntah. Untungnya Upil gerak cepat. Nggak terlambat
ngomongnya, kalo iya mungkin sekarang gue udah nelpon ambulance.
Si Krida ini mau muntah bukannya
bilang-bilang, langsung di keluarkanlah cairan beracunnya itu. Waktu itu temen gue yang bernama Noval lagi tiduran di
bawahnya (dia gak kebagian kursi), untung saja cairan itu tidak masuk ke
mulutnya, karena waktu itu noval lagi tidur dengan mulut terbuka, seperti ikan
koi kehabisan oksigen yang kelaparan. Mangap – mangap gitu.
Noval tidak jadi terkena cairan
beracunnya krida. Dia bangun terlebih dahulu karena teriakan histeris temen-temen gue yang kaget waktu si Krida muntah. Ekspresi wajahnya
waktu itu seperti ketika dia mendapati kabar kalau kakeknya terserang stroke akibat digrepe-grepe nenek-nenek di angkota. Dia
terselamatkan dari cairannya Krida.
Waktu itu gue duduk di
kursi paling belakang.Tepatnya di belakang Krida.Kaki gue waktu itu terjepit
di bawah kursi si Krida. Karena saking sempitnya tempat, kaki gue sampai gak
bisa bergerak. Gue terus dzikir, baca ayat kursi, gue takut kalau si Krida
muntahin kaki gue. Kalo kaki gue yang mulus ini terkena cairan beracunnya
bisa-bisa kaki gue melepuh atau mungkin bisa sampai diamputasi. Dengan biadabnya
Krida ini mengeluarkan (lagi) cairan beracunnya itu. Mungkin karena gue keliru
dalam membaca do’a, seinget gue yang gue baca waktu itu do’a sebelum buang air
besar. Bukannya aman tapi malah pengen
pub.
Untungnya cairan itu tidak mengenai
kaki mulus gue. Kali ini gue udah siapin plastik buat Krida muntah, dengan
senangnya dia menerima plastik pemberian gue. Beberapa menit kemudian dia ingin muntah (lagi). Dibukanyalah
plastik pemberian gue dan dia muntah
di dalam plastik. Lalu dengan gaya seolah-olah tukang
bubur yang udah profesional dia membungkusnya.Dengan tampang horrornya dia melemparkan plastik itu keluar jendela. DUAARRR..!!!
ledakan maha dahsyat terdengar ketika plastik itu pecah. Seperti bom atom. Udah
beberapa kali dia ngelemparin jalanan
lugu yang tidak berdosa itu dengan
cairan beracunnya. Melihat situasi ini ide bisnis gue muncul. Gue bakalan
manfaatin keadaan ini. Krida ini akan selalu muntah setiap kali naik mobil (belakangan gue ketahui dia terbiasa naik
odong-odong). Muntahnya
itu seperti bubur. Gue bisa buka warung bubur. Gak perlu
modal banyak. Ide yang tidak berperikemanusiaan
tapi menjanjikan hasilnya. Cukuplah untuk penghasilan tambahan. Upss. Hohoho.
Akhirnya
saat yang gue tunggu-tunggu datang juga. Kita sampai di Surabaya. Tempat pertama yang kita tuju adalah DBL
Arena. Kita udah sampai di
parkiran DBL. Dengan gembiranya gue keluar dari mobil yang terkutuk ini setelah
sekian jam terjebak dengan Krida. Gue keluar dengan raut wajah seperti abg abg
gaul yang sering di gauli. Tiba-tiba gelandangan di perut gue berontak minta
makan. Dengan berjalan ala boyband korea gue menuju suatu tempat di bawah tanah
untuk makan. Gue menuruni
tangga, mengibaskan rambut, mengeluarkan
sisa – sisa upil dari hidung gue. Gue milih duduk di meja yang posisinya tepat di depan TV. Dan acara TV waktu itu acara gosip. Uhh. Gue lupa apa yang digosipin waktu itu.
Gue bingung mau pesen apa. Setelah pertapaan yang cukup lama akhirnya gue memutuskan untuk memesan nasi ayam kecap. Gue menghampiri orang di
meja kasir dengan penuh gairah seperti ingin memperkosanya, eh tidak,
gue ingin pesan makanan. Untuk
menunggu makanan datang, gue pun pesan segelas kopi. Kopi gue pun datang duluan. Dengan dodolnya gue meminum kopi
panas itu. Srruuppp.. saking semangatnya gue sampai lupa kalo kopi ini masih panas. Anjriitt!!
PANAASSS!! PANAASSS!! Arrggghhh!! Lidah gue kebakaran. Rasanya
seperti mati rasa.
Sambil nunggu makanan datang gue
ngipasin lidah gue yang kebakaran. Setelah
gue tunggu-tunggu makanan gue pun datang. Gue segera menyantapnya dengan penuh birahi. Setelah
selesai makan, dengan lidah mati rasa gue meninggalkan DBL Arena. Setelah
itu kita menuju UNAIR (Universitas Airlangga) untuk bertanding basket. Lawan kita waktu itu adalah SMAN 1 WARU Sidoarjo. Setelah sampai di UNAIR, kita semua turun dari mobil. Kita masuk ke
dalam untuk mengisi daftar absensi dan segera menuju ruang ganti. Saat gue belum
makai celana, panitia sudah memberi tanda kalau pertandingan akan segera dimulai.
Gue gugup. Sampai-sampai
celana gue terbalik. Gue menuju lapangan (dengan celana yang sudah benar).Gue melakukan pemanasan seperti pemain yang udah profesional. Pertandingan pun dimulai.
Sebenarnya gue mau dimainkan, berhubung bulu ketek gue lagi
menyeruak kemana-mana, gue duduk di bangku cadangan dulu. Pertandingan sangat menegangkan. Mengalahkan serunya pertarungan elang vs kuntilanak.
Quarter pertama cukup menegangkan. Wasit meniup peluit, waktunya untuk istirahat.
Sampai sejauh ini gue belum dimainkan
karena sekarang tangan gue pusing. Lho!
Nggak nyambung ini.
Quarter demi quarter berlalu. Akhirnya gue dimainkan diquarter keempat. Saat gue memasuki lapangan, sorak sorai penonton mengalahkan ramainya
demo di depan gedung DPR (khayalan semata).
Kesempatan gue untuk membawa bola datang. Gue menggila di lapangan. Gaya gue seperti dakocan salah gaul yang kesurupan terus
ngerjain ulangan matematika. Di sini gue mengalami kejadian yang amat sangat menyeramkan. Saat itu gue sedang menghadang lawan yang besar, tinggi, hitam,
kribo, udah seperti genderuwo. Gue mencoba untuk tetap tenang (padahal udah pipis satu ember penuh dan
sedikit mimisan).
Jadi gini, saat dia berlari
men-dribble bola, tangan gue mencoba meraih bolanya, tapi dengan sialnya secara
tidak sengaja tangan gue menyentuh ketek busuknya. Rasanya hangat,
lembab, seperti rawa-rawa.Geli!!!
Wasit pun meniup peluit tanda pertandingan selesai. Gue terselamatkan dari serangan ketek yang lebih berbahaya dari guru matematika gue waktu
smp. Tapi sangat disayangkan, kita belum beruntung. Kita kalah.Huahuahua
:’(
Setelah pertandingan selesai kita ganti baju dan keluar dari tempat itu.
Anak – anak langsung ngajak ke Royal Plaza, karena Royal-lah yang murah. Kita menuju Royal sekitar jam 3. Sekitar pukul setengah 4 kita sampai disana.
Gue berpisah dengan temen-temen gue yang lain. Dengan
semangat remidi matematika gue berjalan masuk dengan dua temen gue yang gila, mereka Dohan dan Upil . Tujuan pertama kita di tempat ini adalah Gramedia. Gue berniat untuk beli bukunya Raditya dika. Gue mau
beli yang kambing jantan. Gue gak tau mereka berdua mau beli buku apa.
Gue Tanya kepenjaganya.
‘mbak, ada buku kambing jantan?’
‘Coba cari aja di rak buku ternak
mas’ jawabnya.
(hehe cuma bercanda, gak beneran)
(hehe cuma bercanda, gak beneran)
Yang tersedia Cuma Babi Ngesot .
Yaudah gue beli Babi Ngesot. Gue berpikir nanti gue mau nulis buku judulnya pocong Ngesot. Ceritanya pocong ini habis nyuri ayam terus dia
kepergok warga dan dia lari. Waktu dia lari, dia jatuh. Kakinya terkelincir dan
akhirnya dia ngesot.
Oke, lanjut kecerita. Gue keluar dari Gramedia dengan buku babi ngesot, Upil dengan marmut merah jambu dan Dohan dengan
bukunya Bondan. Gue lupa judulnya apaan.
Setelah itu kita bertiga nyari makanan kelantai 5, di food court. Gue pesan nasi goreng seafood. Begitu pun dengan mereka.Kita
nyari tempat duduk dan akhirnya nemu tempat duduk yang sangat strategis untuk
para cowok. Di depan meja kita terdapat 2 abg cantik yang seksi abis. Sungguh
pemandangan yang meningkatkan nafsu makan gue dan pastinya hot (neraka kali,
hehe).
Kita makan dengan semangat. Selesai makan kita langsung balik. Di perjalanan
tiba – tiba Upil teriak dengan noraknya.
‘Lihat ada lomba catwalk di
bawah sana’.teriaknya.
Gue maklum sih. Dia biasanya
cuma liat mbok-mbok desa yang cuma makai kemben lewat depan rumahnya.
‘Aku pengen liat’ dohan menyahutinya.
Mereka berdua melihat tontonan yang ekstrim itu. Akhirnya dengan terpaksa gue ikuti mereka. Pengen banget gue jorokin mereka berdua ke lantai
paling dasar. Tapi niat gue ini gue urungkan. Gue nggak mau balik sendiri dan tersesat di
tempat ini. Di Indomaret aja gue nyasar. Apalagi di
sini. Gue nggak mau mengulanginya lagi. Mereka berdua adalah petunjuk jalan gue.
Setelah mereka puas mereka ngajak balik. Sampailah kita diluar. Sebelum naik mobil gue menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk persediaan nanti.
Kita semua naik mobil. Mobil melaju nggak kenceng nggak pelan.
Si Krida ini nggak bosan-bosannya muntah. Dia muntah lagi. Gue nggak tahu udah berapa liter cairan yang udah dia
keluarin. Pengen banget gue nendang dia keluar jendela agar gue bisa tidur dengan tenang.
Di sini nggak Cuma Krida yang bikin
gue tersiksa. Ada juga yang lain. Di samping
gue Dohan sama Upil lagi tidur seperti sepasang Homo yang lagi melepas rindu.
Dohan menyandarkan kepalanya di bahu Upil. Sungguh perjalanan yang sedikit
terkutuk.
Setelah sempat mati suri (baca: tidur) di dalam mobil, rombongan sampai di Tuban. Kita sampai sekitar
jam setengah 1 dini hari. Sebelum gue turun, karena gue baik hati gue ngebangunin sepasang Homo di samping gue. Mereka bangun dengan tatapan polosnya.
Gue turun duluan. Gue langsung buru – buru ngambil motor gue. Gue udah
kangen sama dia. Gue sempetin meluk-meluk dia sebentar. Setelah itu gue langsung menuju ke depan
gerbang rumah Mahdi. Upil udah nunggu di sana. Gue sama Upil langsung ngibrit pulang.
Gue nggak tahu lagi kabarnya Dohan
setelah dia tidur di bahunya Upil. Setelah nganterin dia ke rumahnya, gue
langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, gue langsung masuk kamar. Pas
udah di kamar, gue meletakkan tas gue dan akhirnya langsung loncat ke atas
kasur mickey mouse gue dengan
indah sekali.
Gue merebahkan diri gue dan gue tidur dengan tenang sampai esok pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar