Kamis, 16 Januari 2014

BALADA DI SURABAYA



Cerita tidak berperikeunyuan ini berawal ketika gue, Brori si gila dari goa Akbar dan temen-temen basket gue yang gak gue ketahui tingkat kewarasannya mengikuti turnamen Liga Songo di Surabaya.Tepatnya hari minggu tanggal 21 april kemaren. Untuk berangkat kesana kita menyewa travel. Kebetulan milik temen kita sendiri. Jadi dikasih harga murah.

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang.Hari minggu. Hari keberangkatan mobil travel yang mengangkut orang-orang pembawa bencana.Sebelum berangkat kita semua berkumpul di rumah Mahdi, temen basket gue. Pagi itu sebelum berangkat gue mengalami sebuah kesialan. Jadi pagi itu gue bangun agak kesiangan.Saat gue melihat jam di hape gue ternyata udah jam setengah 7. Padahal rencananya kita berangkat jam 7. Dengan gugupnya seolah – olah gue TIMSAR yg ingin menyelamatkan korban tenggelam gue mandi. Setelah itu gue siap - siap. Saking gugupnya sampai-sampai gue salah makai baju, gue makai
dasternya nenek gue. (hehe . . nggak beneran kok)

Setelah ganti baju kesekian kalinya karena bingung, akhirnya gue ngedapetin baju yang menurut gue cocok. Hem kotak - kotak dengan bawahan jeans hitam.

Sebelum berangkat gue ngeliat hape gue. Ada sms dari Upil. Dia ngajak untuk berangkat bareng alias dia nebeng. Karena gue adalah teman yang baik, bersahaja, tidak suka mencontek dan rajin menabung, gue bakal menjemputnya. Setelah siap gue segera menuju rumah Upil (Arif). Gue menjemputnya dengan Byson (baca: motor) gue. Dengan body gue yang mirip tusuk gigi bekas ini gue mengendarai byson gue yang kegedean. Gak matching bangetkan.

Saat di perjalanan menuju rumahnya Upil rasanya itu seperti gue di interogasi seluruh anggota keluarga gara – gara ketangkap basah gak bayar arisan. Menegangkan. Ini dikarenakan byson gue sangat sulit dikendalikan, apalagi ketika dia melihat seorang ibu-ibu lagi menggendong anaknya pakai baju merah. Sepertinya penyakit banteng gila udah merasuk di byson gue. Dia ingin menyeruduk bayi tidak berdosa itu. Si ibu itu tau kalo byson gue mau menyeruduk anaknya, dengan cepat dia segera melepas baju anaknya dan melemparkannya tepat di.... muka gue. Otomatis byson gue langsung noleh kebelakang dengan tatapan garangnya. Sepertinya dia ingin nyeruduk gue. Langsung gue bilang ke dia :

“Son, kalo lo berani nyeruduk gue, gue pastikan lo mati jomblo”

Dia langsung jinak tanpa harus gue bius pakai obat penenang.

Akhirnya gue sampai di rumah Upil dengan selama sentosa setelah melewati perjalanan yang sedikit menguras bensin itu. Sesampainya disana, gue mengikat Byson gue di pohon deket rumah Upil.Gue takut kalo dia kabur dan kawin lari sama kambing tetangga. Pernah sekali gue memergokinya waktu dia mau kabur sama kambing tetangga. Katanya sih, hubungan mereka nggak direstui sama si pemilik kambing. Gue heran kenapa si kambing tetangga mau sama Byson gue. Emang sih, tubuhnya kekar dia, beda sama gue yang lemah ini. Tapi kalau dilihat dari segi ketampanan ya tampan gue.

Oke lanjut ke cerita. Gue langsung menuju ke pintu rumahnya Upil dan memencet bel rumahnya yang bunyinya seperti ayam kejepit kulkas. Gue mainin belnya sampai akhirnya Upil keluar dengan gaya pakaiannya yang menurutnya gaul tapi menurut gue seperti om-om homo.

Gue : pil, lo tau gak, gaya pakaian lo itu kayak om-om homo.

Waktu itu dia pake pakaian yang serba ketat.

Upil : ini trend 2013 bro. Semakin ketat semakin keren.

Gue cuma ngangguk mengiyakan sambil ngeliatin bodinya yang mirip marmut abis kelindes mobil.
Kita langsung menuju ke rumahnya Mahdi. Tepatnya di daerah Perbon.
Sampailah gue sama Upil di rumahnya Mahdi. Di sana semuanya udah pada dateng.

Setibanya gue di rumah Mahdi, dia nyuruh gue untuk markirin banteng gue (baca : Byson) ke dalam rumahnya. Jalannya itu sempit, gelap, banyak kelelawar, udah seperti Goa Akbar. Mungkin rumahnya si Mahdi ini pernah dibuat syuting sinetron laga Indosiar. Dimana ada adegan orang lagi menunggangi naga terus nabrak elang dan jatuh di jamban. Hahoahoa

            Setelah menunggu sampai bulu gagak berwarna-warni (baca : gagak 4L4Y), akhirnya mobil travel pun datang. Kita semua berbondong-bondong naik. Setelah semuanya naik tanpa ada yang tertinggal kecuali kolor gue, mobil pun berangkat. Mulai meninggalkan rumah Mahdi. setelah mobil melaju agak jauh. Di sinilah bencana maha dahsyat inbox masuk jurang kelelep datang. Si Krida, temen gue yang juga ikut ke Surabaya tiba - tiba pusing, mual-mual, perutnya sakit(mungkin kalo ini dia kebelet pup). Apa mungkin Krida hamil? Tapi, siapakah yang menghamilinya? Apa mungkin si bola basket? (ala pembawa acara gosip).

LHOH KOK SI BOLA BASKET!! gue berani menyimpulkan itu karena waktu itu posisi si Krida lagi memangku bola basket.

            Ternyata eh ternyata berjudi itu haram (lho.. kenapa gue malah nyanyi lagunya Rhoma Irama). Ternyata Krida tidak hamil! Salah perkiraan gue. Gue memperkirakannya dengan rumus Trigonometri. Kata Upil si Krida ini pengen muntah. Untungnya Upil gerak cepat. Nggak terlambat ngomongnya, kalo iya mungkin sekarang gue udah nelpon ambulance.

Si Krida ini mau muntah bukannya bilang-bilang, langsung di keluarkanlah cairan beracunnya itu. Waktu itu temen gue yang bernama Noval lagi tiduran di bawahnya (dia gak kebagian kursi), untung saja cairan itu tidak masuk ke mulutnya, karena waktu itu noval lagi tidur dengan mulut terbuka, seperti ikan koi kehabisan oksigen yang kelaparan. Mangap – mangap gitu.

Noval tidak jadi terkena cairan beracunnya krida. Dia bangun terlebih dahulu karena teriakan histeris temen-temen gue yang kaget waktu si Krida muntah. Ekspresi wajahnya waktu itu seperti ketika dia mendapati kabar kalau kakeknya terserang stroke akibat digrepe-grepe nenek-nenek di angkota. Dia terselamatkan dari cairannya Krida.

Waktu itu gue duduk di kursi paling belakang.Tepatnya di belakang Krida.Kaki gue waktu itu terjepit di bawah kursi si Krida. Karena saking sempitnya tempat, kaki gue sampai gak bisa bergerak. Gue terus dzikir, baca ayat kursi, gue takut kalau si Krida muntahin kaki gue. Kalo kaki gue yang mulus ini terkena cairan beracunnya bisa-bisa kaki gue melepuh atau mungkin bisa sampai diamputasi. Dengan biadabnya Krida ini mengeluarkan (lagi) cairan beracunnya itu. Mungkin karena gue keliru dalam membaca do’a, seinget gue yang gue baca waktu itu do’a sebelum buang air besar. Bukannya aman tapi malah pengen pub.

Untungnya cairan itu tidak mengenai kaki mulus gue. Kali ini gue udah siapin plastik buat Krida muntah, dengan senangnya dia menerima plastik pemberian gue. Beberapa menit kemudian dia ingin muntah (lagi). Dibukanyalah plastik pemberian gue dan dia muntah di dalam plastik. Lalu dengan gaya seolah-olah tukang bubur yang udah profesional dia membungkusnya.Dengan tampang horrornya dia melemparkan plastik itu keluar jendela. DUAARRR..!!! ledakan maha dahsyat terdengar ketika plastik itu pecah. Seperti bom atom. Udah beberapa kali dia ngelemparin jalanan lugu yang tidak berdosa itu dengan cairan beracunnya. Melihat situasi ini ide bisnis gue muncul. Gue bakalan manfaatin keadaan ini. Krida ini akan selalu muntah setiap kali naik mobil (belakangan gue ketahui dia terbiasa naik odong-odong). Muntahnya itu seperti bubur. Gue bisa buka warung bubur. Gak perlu modal banyak. Ide yang tidak berperikemanusiaan tapi menjanjikan hasilnya. Cukuplah untuk penghasilan tambahan. Upss. Hohoho.

            Akhirnya saat yang gue tunggu-tunggu datang juga. Kita sampai di Surabaya. Tempat pertama yang kita tuju adalah DBL Arena. Kita udah sampai di parkiran DBL. Dengan gembiranya gue keluar dari mobil yang terkutuk ini setelah sekian jam terjebak dengan Krida. Gue keluar dengan raut wajah seperti abg abg gaul yang sering di gauli. Tiba-tiba gelandangan di perut gue berontak minta makan. Dengan berjalan ala boyband korea gue menuju suatu tempat di bawah tanah untuk makan. Gue menuruni tangga, mengibaskan rambut, mengeluarkan sisa – sisa upil dari hidung gue. Gue milih duduk di meja yang posisinya tepat di depan TV. Dan acara TV waktu itu acara gosip. Uhh. Gue lupa apa yang digosipin waktu itu.

Gue bingung mau pesen apa. Setelah pertapaan yang cukup lama akhirnya gue memutuskan untuk memesan nasi ayam kecap. Gue menghampiri orang di meja kasir dengan penuh gairah seperti ingin memperkosanya, eh tidak, gue ingin pesan makanan. Untuk menunggu makanan datang, gue pun pesan segelas kopi. Kopi gue pun datang duluan. Dengan dodolnya gue meminum kopi panas itu. Srruuppp.. saking semangatnya gue sampai lupa kalo kopi ini masih panas. Anjriitt!! PANAASSS!! PANAASSS!! Arrggghhh!! Lidah gue kebakaran. Rasanya seperti mati rasa.

Sambil nunggu makanan datang gue ngipasin lidah gue yang kebakaran. Setelah  gue tunggu-tunggu makanan gue pun datang. Gue segera menyantapnya dengan penuh birahi. Setelah selesai makan, dengan lidah mati rasa gue meninggalkan DBL Arena. Setelah itu kita menuju UNAIR (Universitas Airlangga) untuk bertanding basket. Lawan kita waktu itu adalah SMAN 1 WARU Sidoarjo. Setelah sampai di UNAIR, kita semua turun dari mobil. Kita masuk ke dalam untuk mengisi daftar absensi dan segera menuju ruang ganti. Saat gue belum makai celana, panitia sudah memberi tanda kalau pertandingan akan segera dimulai. Gue gugup. Sampai-sampai celana gue terbalik. Gue menuju lapangan (dengan celana yang sudah benar).Gue melakukan pemanasan seperti pemain yang udah profesional. Pertandingan pun dimulai. Sebenarnya gue mau dimainkan, berhubung bulu ketek gue lagi menyeruak kemana-mana, gue duduk di bangku cadangan dulu. Pertandingan sangat menegangkan. Mengalahkan serunya pertarungan elang vs kuntilanak.

Quarter pertama cukup menegangkan. Wasit meniup peluit, waktunya untuk istirahat. Sampai sejauh ini gue belum dimainkan karena sekarang tangan gue pusing. Lho! Nggak nyambung ini.
 Quarter demi quarter berlalu. Akhirnya gue dimainkan diquarter keempat. Saat gue memasuki lapangan, sorak sorai penonton mengalahkan ramainya demo di depan gedung DPR (khayalan semata).

 Kesempatan gue untuk membawa bola datang. Gue menggila di lapangan. Gaya gue seperti dakocan salah gaul yang kesurupan terus ngerjain ulangan matematika. Di sini gue mengalami kejadian yang amat sangat menyeramkan. Saat itu gue sedang menghadang lawan yang besar, tinggi, hitam, kribo, udah seperti genderuwo. Gue mencoba untuk tetap tenang (padahal udah pipis satu ember penuh dan sedikit mimisan).

Jadi gini, saat dia berlari men-dribble bola, tangan gue mencoba meraih bolanya, tapi dengan sialnya secara tidak sengaja tangan gue menyentuh ketek busuknya. Rasanya hangat, lembab, seperti rawa-rawa.Geli!!!

Wasit pun meniup peluit tanda pertandingan selesai. Gue terselamatkan dari serangan ketek yang lebih berbahaya dari guru matematika gue waktu smp. Tapi sangat disayangkan, kita belum beruntung. Kita kalah.Huahuahua :’(

Setelah pertandingan selesai kita ganti baju dan keluar dari tempat itu. Anak – anak langsung ngajak ke Royal Plaza, karena Royal-lah yang murah. Kita menuju Royal sekitar jam 3. Sekitar pukul setengah 4 kita sampai disana.

Gue berpisah dengan temen-temen gue yang lain. Dengan semangat remidi matematika gue berjalan masuk dengan dua temen gue yang gila, mereka Dohan dan Upil . Tujuan pertama kita di tempat ini adalah Gramedia. Gue berniat untuk beli bukunya Raditya dika. Gue mau beli yang kambing jantan. Gue gak tau mereka berdua mau beli buku apa.
Gue Tanya kepenjaganya.

‘mbak, ada buku kambing jantan?’

‘Coba cari aja di rak buku ternak mas’ jawabnya.
(hehe cuma bercanda, gak beneran)

Yang tersedia Cuma Babi Ngesot . Yaudah gue beli Babi Ngesot. Gue berpikir nanti gue mau nulis buku judulnya pocong Ngesot. Ceritanya pocong ini habis nyuri ayam terus dia kepergok warga dan dia lari. Waktu dia lari, dia jatuh. Kakinya terkelincir dan akhirnya dia ngesot.

Oke, lanjut kecerita. Gue keluar dari Gramedia dengan buku babi ngesot, Upil dengan marmut merah jambu dan Dohan dengan bukunya Bondan. Gue lupa judulnya apaan.

Setelah itu kita bertiga nyari makanan kelantai 5, di food court. Gue pesan nasi goreng seafood. Begitu pun dengan mereka.Kita nyari tempat duduk dan akhirnya nemu tempat duduk yang sangat strategis untuk para cowok. Di depan meja kita terdapat 2 abg cantik yang seksi abis. Sungguh pemandangan yang meningkatkan nafsu makan gue dan pastinya hot (neraka kali, hehe).

Kita makan dengan semangat. Selesai makan kita langsung balik. Di perjalanan tiba – tiba Upil teriak dengan noraknya.

‘Lihat ada lomba catwalk di bawah sana’.teriaknya.

Gue maklum sih. Dia biasanya cuma liat mbok-mbok desa yang cuma makai kemben lewat depan rumahnya. 

‘Aku pengen liat’ dohan menyahutinya.

Mereka berdua melihat tontonan yang ekstrim itu. Akhirnya dengan terpaksa gue ikuti mereka. Pengen banget gue jorokin mereka berdua ke lantai paling dasar. Tapi niat gue ini gue urungkan. Gue nggak mau balik sendiri dan tersesat di tempat ini. Di Indomaret aja gue nyasar. Apalagi di sini. Gue nggak mau mengulanginya lagi. Mereka berdua adalah petunjuk jalan gue.
Setelah mereka puas mereka ngajak balik. Sampailah kita diluar. Sebelum naik mobil gue menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk persediaan nanti.

Kita semua naik mobil. Mobil melaju nggak kenceng nggak pelan.

Si Krida ini nggak bosan-bosannya muntah. Dia muntah lagi. Gue nggak tahu udah berapa liter cairan yang udah dia keluarin. Pengen banget gue nendang dia keluar jendela agar gue bisa tidur dengan tenang.

Di sini nggak Cuma Krida yang bikin gue tersiksa. Ada juga yang lain. Di samping gue Dohan sama Upil lagi tidur seperti sepasang Homo yang lagi melepas rindu. Dohan menyandarkan kepalanya di bahu Upil. Sungguh perjalanan yang sedikit terkutuk.

Setelah sempat mati suri (baca: tidur) di dalam mobil, rombongan sampai di Tuban. Kita sampai sekitar jam setengah 1 dini hari. Sebelum gue turun, karena gue baik hati gue ngebangunin sepasang Homo di samping gue. Mereka bangun dengan tatapan polosnya.

Gue turun duluan. Gue langsung buru – buru ngambil motor gue. Gue udah kangen sama dia. Gue sempetin meluk-meluk dia sebentar. Setelah itu gue langsung menuju ke depan gerbang rumah Mahdi. Upil udah nunggu di sana. Gue sama Upil langsung ngibrit pulang. Gue nggak tahu lagi kabarnya Dohan setelah dia tidur di bahunya Upil. Setelah nganterin dia ke rumahnya, gue langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, gue langsung masuk kamar. Pas udah di kamar, gue meletakkan tas gue dan akhirnya langsung loncat ke atas kasur mickey mouse gue dengan indah sekali.

Gue merebahkan diri gue dan gue tidur dengan tenang sampai esok pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar